Saya Katolik: Keajaiban Novena 3 Salam Maria

Saya bukan tipe yang sangat religius. Bukan orang yang tiap hari rajin membuka Alkitab-nya. Berdoa, ya, hampir selalu dilakukan sebelum dan sesudah tidur malam tetapi lumayan jarang berdoa saat makan maupun sebelum pergi ke luar rumah. Lain dari itu, frekuensi doa saya bahkan mendekati kata TIDAK PERNAH.

Jelas, perasaan berdosa itu ada. Kadang menghantui, tapi lebih sering terlupakan akibat hal duniawi lainnya. 

Kalau dibandingkan dengan masalah lain, masalah saya ini bisa dibilang kecil. Enteng. Dimulai dari kegagalan di SNMPTN 2015, perasaan saya mulai kacau. Saya tahu memang pilihan saya terlalu tinggi bagi siswa yang berasal dari sekolah yang tidak seorang pun alumninya berasal dari kampus tersebut. Kampus favorit di Indonesia lagi. Tapi saya ngotot berharap sampai akhirnya saya harus menelan kekecewaan di sore itu.

Setelah pengumuman, saya mulai fokus untuk SBMPTN, tes tertulis masuk ptn. 

Baiklah, saya mungkin terlihat seperti belajar sangat keras, belajar hingga larut malam, tapi sebagian dari waktu "belajar" saya lebih banyak habis untuk hal-hal tidak berguna seperti mengecek hp berjam-jam, nonton, bahkan melamun. Saya tidak tahu kapan persisnya, beberapa hari menjelang tes, saya tersadar betapa banyak materi yang belum saya kuasai.

Saya mulai serius. Saya yang belum tentu minum kopi sebulan sekali mendadak meneguk 2-3 gelas kopi tiap malam. Tapi saya bukan tipe tukang bedagang. Paling mentok-dan sangat jarang terjadi-saya bisa bertahan hingga jam 2 dinihari. Tapi tetap saja kebiasaan membuang-buang waktu belajar dengan hal-hal tidak berguna masih saya lakukan walau saya tidak seperti sebelumnya.

Lalu saya mulai terlihat seperti orang paling beriman. Saya terus mengingatkan mama untuk pergi ke gereja minggu ini, menyimak dengan baik khotbah Pastor yang biasa saya tanggapi dengan kantuk, dan berdoa sungguh-sungguh. Saya sangat berharap Tuhan memberkati ujian saya, namun di lain pihak saya merasa sangat berdosa, dekat dengan Tuhan saat saya membutuhkan.

Menjelangan pengumuman tes, saya ingat mengenai Doa Novena. Hampir setiap minggu ada pengumuman dari seseorang (atau lebih) mengenai syukur atas terkabulnya Doa Novena-nya. Caranya memang seperti itu, jika Doa Novena kita terkabul, hal itu harus segera diumumkan baik di gereja, kesaksian, maupun media cetak online, atau lainnya. Jadi akhirnya saya memilih Doa Novena Tiga Salam Maria pada Orasi Suci. Saya melakukannya di waktu yang tidak sama tiap harinya, berbeda dengan yang ditulis dalam novena.

Dalam doa saya, saya menyerahkan sepenuhnya hasil ujian saya pada Tuhan. Manusia boleh menginginkan sesuatu, tapi kehendak Tuhan-lah yang jadi. Sebab saya tahu rencana Tuhan adalah yang terbaik bagi saya dan saya akan menyadari itu.

Saya berdoa Novena dalam beberapa hari berturut-turut hingga akhirnya hari pengumuman. 

Saya betul-betul pesimis. Saya sebenarnya cukup puas dengan hasil kerja saya, tapi saya tidak yakin apa saya bisa lolos pilihan pertama mengingat pilihan pertama saya termasuk incaran favorit dalam bursa ptn Tapi Puji Tuhan.

Saya lolos Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada.

Semua pengorbanan saya tidak sia-sia. Terima kasih Bunda Maria yang telah menjadi perantara. Terima kasih Tuhan sudi mendengarkan saya. Tuhan masih begitu baik pada saya yang sangat jarang mengingat-Nya. 

Jika saja Tuhan tidak berkenan, walau nilai saya mungkin yang tertinggi, saya pasti tidak akan berada di sana. 

Jadi jika seseorang bertanya apa saya percaya mukjizat atau keajaiban dengan tegas saya akan menjawab: "ya, saya percaya. Karena saya seorang Katolik."

(ditulis sebagai kesaksian terkabulkan Novena 3 Salam Maria)
00:19 Yogyakarta, Indonesia

Komentar